Connect with us

Hi, what are you looking for?

judul gambar

Motivasi

Selamat Tinggal, Pesimis! Selamat Datang Optimis #1

Hampir semua orang yang sempat saya ajak berdiskusi soal hiruk-pikuk permasalahan politik dan kenegaraan, memuarakan perasaan pada satu kata: pesimis. Ya, apa yang bisa diharapkan lagi dari sebuah sistem pemerintahan yang sudah telanjur sarat korupsi, minim teladan dan kurang semangat pengabdian.

“Berharap ada perubahan dari Pemilu, weh, kok sama saja,” ujar salah seorang kenalan. “Bagaimana mau beranjak dari korupsi, lha wong mau jadi anggota dewan banyak yang sebar-sebar duit suap untuk money politic!”

“Saya pesimis negara ini bakal lebih baik,” tukas kenalan saya yang lain, dengan sengitnya. “Yang pertama dilakukan para pemimpin terpilih, saya yakin, pasti mencari berupaya penuh agar balik modal. Mana mungkin mereka sempat memikirkan rakyat.”

judul gambar

Ya, melihat kondisi perpolitikan di tanah air yang kian hari kian penuh hiruk-pikuk, memang telah membuat banyak kalangan merasa pesimis. Tingginya suara Golput yang mencapai angka nyaris 30%, menandakan bahwa sesungguhnya Golputlah pemenang Pemilu tahun kemarin. Kebanyakan, orang memilih Golput karena frustasi, merasa pesimis bahwa hajatan politik yang memakan biaya hingga trilyunan ini memberi dampak positif untuk masyarakat.

Akan tetapi, betulkah sebagai seorang muslim kita layak terus menerus memelihara rasa pesimis? Tentu tidak! Islam melarang kita berputus asa. Allah berfirman, “…janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…” (Az-Zumar 39:53)

Banyak hal terjadi, justru sikap optimislah yang banyak membuat orang mampu melewati fase-fase kritis dalam kehidupan dengan gemilang. Demikian pula, bangsa Indonesia membutuhkan banyak orang-orang yang tetap optimis, segenting apapun problem yang tengah mencengkeram bangsa ini.

Makna Optimisme

Optimisme itu berasal dari kata optimis, yakni orang yang selalu beranggapan (baik). Optimisme sendiri, dalam kamus bahasa Indonesia artinya “harapan yang selalu mengarah kepada kebaikan”. Nah, sedangkan optimistis adalah ‘”sikap selalu berpengharapan, alias berpandangan baik dalam menghadapi segala hal”.

Dalam Random House Dictionary, sebagaimana dikutip oleh Lawrence E. Saphiro P.Hd, “Optimisme adalah kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari sisi dan kondisi baiknya dan mengharapkan hasil yang memuaskan.”

Optimisme sangat berhubungan dengan berpikir positif, atau yang dalam istilah agama sering disebut dengan husnudzon? Akan tetapi, optimisme itu lebih dari sekadar berpikir positif. Optimisme adalah kebiasaan berpikir positif. Artinya, optimisme adalah sebuah akhlak yang muncul karena kita senantiasa memandang segala sesuatu dari segi positifnya.

Orang-orang yang optimis bukan tak pernah mengalami hal yang buruk dalam hidup. Namun, seperti yang ditulis oleh Saphiro, mereka menganggap sesuatu yang buruk itu sebagai hal yang bersifat sementara. Meskipun mereka gagal, mereka senantiasa bangkit, mengevaluasi, membenahi kesalahan-kesalahan dan kembali mencoba. Jatuh dan bangun adalah sebuah hakikat mendapatkan kesuksesan yang sangat mereka sadari.

Kebalikan dari sikap optimisme adalah sikap pesimisme. Sikap pesimisme muncul dari kebiasaan berpikir negatif alias ber-su’udzon, selalu memandang segala sesuatu dari segi buruknya. Cara yang paling gampang untuk membedakan seseorang itu termasuk dalam kategori pesimistis atau optimistis adalah komentar mereka terhadap kejadian ini.

Suatu ketika Andi, anak usia 6 tahun mengobrak-abrik koleksi buku tantenya, Dea. Nah, jika Dea adalah gadis yang pesimistis, dia akan berkata, “Ya ampuuun, Andiiii! Kamu ini kok nakalnya bukan maiin. Udah jutaan kali Tante peringatkan, jangan bikin berantakan buku-buku Tante! Capek ngeberesinnya, tahuu! Ini anak nggak mau berubah, dijewer baru tahu rasa! Tante sampai bosan ngebilangin kamu!”
Sedangkan jika Dea adalah gadis yang optimistis, komentarnya akan seperti ini!

“Andi, sudah empat kali kamu mengobrak-abrik buku Tante. Tante kan sudah ngasih batas, kalau lebih dari tiga kali kamu berbuat seperti itu, Tante akan hukum kamu!”

Perhatikan kalimat yang dicetak tebal! Dea mengatakan jutaan kali (kenyataannya baru 4 kali) karena dia merasa pesimis bahwa Andi tidak akan berubah, akan tetap nakal, akan tetap mengobrak-abrik koleksi novelnya.

BERSAMBUNG

Penulis: Afifah Afra

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Berita

Setelah sukses menggelar Kompetisi Menulis Indiva 2020, Penerbit Indiva Media Kreasi kembali menggelar lomba. Wah, memang penerbit yang satu ini selalu sarat agenda literasi,...

Keislaman

Waw…! Kamu sudah lulus dari sekolahmu yang lama ya? Hmm senang ya? Congratulation deh! Itu semua berkat kerja keras, doa dan izin dari Allah...

Sains

Hiiy… Mimpi Buruk!Pada sebuah malam, sebuah teriakan tiba-tiba terdengar menggema dari kamar tidur Ari. Sang kakak, Anita yang masih lembur dengan tugas-tugas kampusnya tersentak....

Literasi

Hai, tahu kan kalian, kalau penulis Afifah Afra baru saja merilis karya terbarunya? Judulnya Balada Cinta Isvara. Sebuah novel yang mengisahkan sosok Isvara, seorang...

Copyright © 2020 https://kanalgenz.com/